Healthy
Ahli Bedah Saraf Indonesia Harus Tingkatkan Medical Research
Jakarta, pantausidang — Pelayanan bedah saraf di rumah-rumah sakit di Indonesia semakin maju dan meningkat, walaupun untuk penanganan kasus medis kompleks belum setara dengan yang negara-negara maju seperti Eropa, Jepang, Amerika.
“Sebetulnya (bedah saraf) di Indonesia sudah cukup maju. Kalau dibandingkan dengan Amerika, kami hanya kalah kegiatan medical research saja. Selama ini, ahli bedah saraf di Indonesia lebih banyak praktik, tapi minim _research_ ,” kata ahli bedah saraf di Indonesia, Prof. Satyanegara.
Kemajuan pelayanan bedah saraf di Indonesia, salah satunya juga berdirinya pusat rujukan nasional utama untuk gangguan saraf dan otak, yang memiliki layanan unggulan bedah saraf dan neurovaskular. Termasuk Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta menjadi pusat rujukan nasional dalam penanganan khusus kesehatan otak dan saraf.
“Dokter-dokter muda ahli bedah saraf juga selalu ikut simposium/seminar kedokteran. Kalau mereka tekun belajar seperti dokter-dokter di PON, bahkan lulusan Stanford University, pasti bisa semakin menyamai Amerika,” kata direktur senior Tzu Chi Hospital PIK.
Setelah lulus dari fakultas kedokteran (FK), dan program pendidikan dokter spesialis (PPDS), para dokter muda berprofesi sebagai ahli bedah saraf. Setelah lulus fakultas kedokteran, dokter muda harus ikut program lanjutan yakni program pendidikan dokter subspesialis.
Program lanjutan ini merupakan pendalaman terhadap salah satu aspek (ilmu pengetahuan, keterampilan, dan prosedur) dalam satu bidang spesifik yang menjadi bagian dari satu cabang ilmu tertentu atau _area of special interest. Para lulusan juga akan mampu memberikan pelayanan medis subspesialistik dengan kualitas tinggi, berbasis bukti ilmiah dan sesuai dengan standar internasional.
“Contohnya, setelah lulus FK mereka mau mendalami endoskopi (prosedur medis yang dilakukan untuk melihat organdalam menggunakan alat khusus yang dimasukkan ke dalam tubuh) maka dia mencari sekolah atau pusat rumah sakit yang memiliki fasilitas yang bagus di negara maju.
Mereka pergi belajar setengah tahun. Kalau ikut Fellowship Dokter Spesialis, harus di atas setengah tahun hingga paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Kalau jangka pendek, program Fellowship untuk tujuan luar negeri paling singkat tiga bulan hingga paling lama 24 (dua puluh empat) bulan,” kata Prof. Satyanegara saat menerima diaspora Indonesia di Amerika di ruang kerjanya.
Secara keseluruhan, sekarang ini ada sekitar 600 orang ahli bedah saraf. Pada waktu Prof. Satyanegara pulang ke Indonesia pasca meraih gelar Kedokteran dan Doktoral di Jepang tahun 1972, baru ada puluhan saja ahli bedah saraf.
Jumlah dokternya sangat terbatas waktu itu, tapi pasien membludak. Kondisi sekarang, dokter-dokter muda juga sudah ditunjang dengan alat-alat kesehatan yang high-tech. Dari sisi pengetahuan, keahlian dan kompetensi dokter-dokter muda ahli bedah saraf di Indonesia tidak jauh berbeda dengan luar negeri.
Hanya saja, dokter Indonesia harus diberi kesempatan yang lebih luas lagi untuk praktik dan kemampuan menggunakan alat-alat yang high-tech.
“Seperti Tzu Chi Hospital (TCH) relative cukup lengkap, tidak merasa minder dibanding luar negeri. Alat kesehatan harus impor, dan harganya sangat mahal,” kata Prof. Satyanegara.
TCH juga memiliki lima unggulan dalam pelayanan kesehatan yakni neurosurgeon (bedah saraf), transplantasi tulang, obgyn kebidanan dan kandungan, Pediatrics, transplantasi tulang, Paliatif care (pendekatan perawatan yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi penyakit serius).
Dokter-dokter muda khususnya bedah saraf juga dibekali etika kedokteran sebagai pedoman yang mengatur prinsip moral dan etik dalam melaksanakan profesi kedokteran.
“Untuk level Asia Tenggara, kedokteran Indonesia tidak kalah. Kalaupun ke Singapore, hanya sebatas pembanding saja. Tapi kalau studi di Jerman, Jepang, Amerika, biasanya lebih mumpuni. Sekarang ini, Korea sebagai tujuan untuk menjadi dokter estetika medik,” kata Prof. Satyanegara. *** (Liu)
Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.
-
Tuntutan2 minggu agoProyek Fiktif Telkom, Jaksa tuntut 11 terdakwa 7 tahun hingga 16 tahun penjara
-
Saksi4 minggu agoKPK Akan Panggil Petinggi PSI Ahmad Ali dan Ketum PP dalam Kasus Gratifikasi Batu Bara Kukar
-
Nasional3 minggu agoRecalling Memory sambil Lawan Pemutihan Sejarah
-
Saksi3 minggu agoJPU Beberkan Dugaan Aliran Dana Rp809 Miliar ke Goto


You must be logged in to post a comment Login