Profil
Nanda L. Qadriani (Chen Xiu Ya) Kaprodi Mandarin di UAI Buka Suara Mengenai Pendidikan Mandarin
Jakarta, pantausidang — Dr. Nanda Lailatul Qadriani, S.Pd., M.TCSOL, (Chen Xiu Ya), dosen tetap program studi bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, baru bulan Juli 2025 dipercaya menjabat kepala program studi bahasa mandarin (PBM) Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI).
Perempuan, kelahiran Pontianak Kalimantan Barat ini, meraih gelar Doctor of Arts in Teaching Chinese to Speakers of Other Languages dari Shanghai International Studies University (SISU), China.
Pulang ke Indonesia, ia langsung menggeluti berbagai aktivitas yang tidak lepas dari kemampuan berbahasa mandarinnya, yakni sebagai dosen, penerjemah, pemandu wisata, peneliti. H
Sebagai dosen dengan gelar S3 di bidang pengajaran bahasa Mandarin, tidak lepas dari passion dan pengalaman berkomunikasi lintas budaya dan layanan multibahasa.
Awalnya, ia seorang freelance sebagai pemandu wisata dan penerjemah sampai akhirnya, ia didapuk sebagai kepala program studi (Kaprodi) mandarin di UAI sejak beberapa bulan yang lalu.
Pencapaian dengan gelar Doktor ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar UAI, tetapi juga memperkaya khazanah keilmuan di bidang pengajaran bahasa Mandarin sebagai bahasa asing.
Baginya gelar doktor ini menjadi awal kontribusi yang lebih besar bagi dunia akademik serta menginspirasi seluruh sivitas akademika untuk terus berkarya dan berprestasi.
“S1 (strata satu) saya, pendidikan bahasa mandarin di Universitas Tanjung Pura Kalbar. Lulus S1, saya dapat full scholarship dari pemerintah China,” kata Nanda.
Prospek belajar bahasa Mandarin di China, ada mahasiswa yang beruntung mendapat beasiswa dan ada juga yang self-study funded atau biaya sendiri.
Ada juga beasiswa dari beberapa perusahaan khususnya investasi China di Indonesia seperti Haier yang memberikan beasiswa kepada beberapa mahasiswa mandarin UAI.
“Memang ada perusahaan yang mau kerjasama, mau kasih beasiswa kepada beberapa mahasiswa UAI (Univ. Al Azhar Indonesia).”
“Ada juga yang dapat beasiswa dari China. Saya, S2, S3 dengan full scholarship dari pemerintah China,” kata alumni program S2 Shanghai International Studies University (2015 – 2017).
Kondisi sekarang terutama banyaknya investor, pelaku usaha asal China di Indonesia, otomatis juga mendorong minat belajar bahasa mandarin.
Trend semakin meningkat dari tahun ke tahun, termasuk jumlah mahasiswa baru yang mendaftar pada prodi mandarin UAI.
Jumlah mahasiswa mandarin meningkat hampir 40 persen per tahun 2025. Angka tersebut lebih banyak dibanding tahun 2024 yang lalu.
“Tahun lalu, kenaikan jumlah mahasiswa sekitar belasan. Kalau tahun ini, hampir 30 mahasiswa baru,” kata alumni kursus mandarin intensif di Beijing Language & Culture University (2014 – 2015).
Menurutnya ada beberapa alasan kenaikan jumlah mahasiswa memilih prodi mandarin khususnya di UAI.
Selain, lapangan pekerjaan, ternyata ada juga faktor kebudayaan, terutama berbagai drama China (drachin). di social media seperti TikTok, Instagram.
Fenomena Drachin tentunya beda dengan demam masyarakat Indonesia dengan F4 atau Flower Four, Meteor Garden, drama televisi Taiwan yang ditayangkan pertama kalinya pada tahun 2001.
Drachin di Tiktok, Instagram berdurasi beberapa menit, lima menit, dan tidak berjilid-jilid seperti Meteor Garden.
“itu (Drachin) yang memicu semakin banyak mahasiswa ikut prodi mandarin di UAI. Selain, setelah lulus, banyak peluang kerja. seperti sekarang ini, kami sedang mengerjakan akreditasi.”
“Ada beberapa poin tentang lulusan, yakni masa tunggu lulusan UAI hanya 2,7 bulan. Setelah 3 bulan, langsung dapat kerjaan. Ketika mereka pindah ke perusahaan baru, gaji lebih tinggi,” kata Nanda.
Di sisi lain, banyak orang tua siswa berharap ada fasilitas scholarship untuk anak-anaknya. walaupun tidak semua beruntung, sebaliknya self-funded study.
Kalau self-funded, kemungkinan diterima (di berbagai universitas di China) lebih besar. Tapi tergantung kampusnya juga.
Kalau Tsinghua university di Beijing, Fudan university di Shanghai, pihak universitas tetap menerapkan batas bawah (nilai ambang batas).
“Kalau mau masuk Fudan, perlu tes wawancara, dll. mereka sangat selektif. Masuk Tsinghua, juga dengan tes tertulis, bikin essay, dan lain sebagainya,” kata Nanda.

Sesi kuliah tambahan Nanda kepada beberapa mahasiswi prodi mandarin Universitas Al-Azhar Indonesia
Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.
-
Internasional4 minggu agoKorelasi Pertemuan Komjak dan Jiangsu High People’s Court untuk Integritas Peradilan
-
Tuntutan4 minggu agoBos Paramitra Mulia Langgeng Anak Usaha Sungaibudi Grup (BUDI) Penyuap Dirut Inhutani V Dituntut 3,4 Tahun Penjara
-
Dakwaan3 minggu agoJPU Beberkan Dugaan Pengaturan DMUT dalam Sidang Tipikor Pertamina
-
Nasional4 minggu agoGuru Besar UIN Cirebon Dorong Revisi UU Kepolisian Sebelum Terbitkan PP ASN–Polri


You must be logged in to post a comment Login