Connect with us

Profil

Nanda L. Qadriani (Chen Xiu Ya) Kaprodi Mandarin di UAI Buka Suara Mengenai Pendidikan Mandarin

Published

on

Dr. Nanda Lailatul Qadriani, S.Pd., M.TCSOL, ( Chen Xiu Ya)

Kesempatan beasiswa, apalagi full scholarship, para orang tua dan siswa sedari awal atau sebelum mulai kuliah, harus sudah menyiapkan berbagai berkas. Ada beberapa cara, sebagian mengurus sendiri.

“Seperti saya yang mengurus sendiri. Ada juga teman saya, dengan bantuan agent.”

“Kalau bantuan agent, kalau diterima, (calon siswa) bayar (agent). Kalau tidak diterima, tetap bayar, tapi tidak maksimal atau sedikit,” kata Nanda.

Kondisi beberapa agent atau konsultan Pendidikan China, ada yang kompeten dan ada yang abal-abal.

Contoh Greatwall China Education Consultant/CEC, sebagai agent, sejak awal, membantu pengurusan administrasi sampai antar mahasiswa ke kampus.

Beberapa siswa asal Indonesia, ada agent yang mendampingi sejak awal sampai calon mahasiswa bisa menyelesaikan berbagai terutama buka rekening bank, asrama, dan lain sebagainya.

Pendampingan agent, sekitar satu minggu seketika mereka tiba di China.

“agent tetap mendampingi urus kehidupan calon siswa selama satu minggu,” kata Nanda.

Tetapi ada juga agent abal-abal.

“Itu jelas ada. Temannya teman saya pernah kena tipu. dia dijanjikan dapat fasilitas full scholarship. Tapi sampai di sana, hanya tuition fee nya yang gratis, Sementara dia harus tetap bayar praktik, biaya asrama, dan lain sebagainya,” kata Nanda.

Kalau tidak ditangani, bisa saja jumlah agent yang abal-abal semakin banyak. pada umumnya, mereka kurang bertanggungjawab.

Biasanya, mereka menyisir calon mahasiswa yang menengah ke bawah, yang latarbelakang pendidikan orang tuanya kurang.

Agent abal-abal menyisir sampai ke kampung-kampung kecil seperti di Banjarmasin Kalimantan Selatan.

“Ada beberapa korban di Banjarmasin Kalimantan Selatan. ketika dijanjikan agent, misalkan beasiswa Rp 100 juta. Mereka nrimo saja, tanpa check and recheck lagi. Kadang orang tuanya tidak paham. Tapi ketika agent tawari, ada iming-iming beasiswa,” kata Nanda.

Sekarang ini, beberapa sekolah swasta di berbagai kota besar di Indonesia mulai buka akses dengan berbagai universitas di China.

Pihak yayasan melihat urgensinya karena semakin banyak lulusan SMU atau SMK yang antusias belajar di China.

Hal ini sangat tergantung dengan kebutuhan dan karakter sekolah tersebut yang di Indonesia.

Biasanya dari siswanya, apakah ada pelajaran Bahasa mandarin. Kalau ada, biasanya gurunya punya link ke beberapa universitas di China.

Selain gurunya mengetahui bagaimana mengajukan permohonan beasiswa, dosen pembimbing juga biasanya punya link dengan berbagai universitas di China.

“Kalau tidak ada pelajaran mandarin di sekolah, tapi tiba-tiba mau studi jenjang S1 mandarin, agak sulit.”

Menurut nya PBM UAI juga sudah menjangkau sekolah-sekolah yang butuh mandarin/lembaga.

Seperti Masjid Istiqlal, PBM UAI (direkturnya Feri Ansori) suka buka titik-titik pengajaran, bisa dalam bentuk sekolah, atau lembaga sepertil Istiqlal.

“Sudah ada kelas Bahasa mandarin di Masjid Istiqlal, dan itu gratis untuk yang mau belajar dengan serius dan tekun,” kata perempuan kelahiran 15 Maret 1993 tersebut. *** (Liu).

Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.

Laman: 1 2

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Advertisement

Facebook

Tag

Trending