Nasional
Recalling Memory sambil Lawan Pemutihan Sejarah
Jakarta, pantausidang — Di ruangan itu, memang ramai, namun suasananya bukanlah ramai dengan senyum, namun kegetiran. Tatapan, pandangan antar mata, ataupun ekspresi dari wajah-wajah orang yang datang, mencerminkan satu hal, saling hadir, saling menguatkan.
Karena, marah, sedih, kecewa, sudah bercampur baur melebur melalui waktu yang takkan pernah terlupa. Baik bagi korban, maupun orang-orang di sekelilingnya. Tetap saja, satu momen pemantik, luapan emosi itu tertumpah.
Dan satu kata yang muncul, “mengapa?” Itulah momen kegetiran seorang ibu, Wiwin Haryono mengisahkan pengalaman kelam yang tentunya akan terus menggores menjadi luka batin ketika mengingatnya.
Saat ia kehilangan buah cintanya, Ita Martadinata, yang menjadi korban perkosaan Mei 1998, dan tewas dibunuh pada Oktober 1998.
Mengingat masa-masa kelam itu membuka kembali kenangan yang membekas di pikiran. Beberapa bulan setelah kerusuhan Mei 1998, sebetulnya suasana perpolitikan/perekonomian masih mencekam, karena beberapa aktivis kemanusiaan, mahasiswa masih khawatir kalau inner circle mantan presiden ke 2 RI (Alm. Soeharto) masih bercokol.
Seiring dengan suasana yang masih mencekam tersebut, beberapa aktivis kemanusiaan termasuk Institut Sosial Jakarta (ISJ), Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRUK), serta berbagai organisasi feminis Indonesia, seperti Kalyanamitra, APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) intens gelar kegiatan advokasi terhadap korban kerusuhan Mei, termasuk korban perkosaan.
Psikologis para aktivis saat itu, salah satunya, bagaimana korban tidak dibungkam atau lari ke luar negeri. Bagi yang berada di tengah-tengah kondisi kerusuhan Mei 1998, menjadi korban rasialis hingga menjadi korban perkosaan, tentunya memiliki trauma psikologis.
Ketakutan, marah, kecewa, sedih, semua menjadi satu. Pikiran ini bertanya-tanya, mengapa bisa terjadi? Tidak ada rasa yang bisa menggambarkan ketidakterimaan terhadap tindakan biadab dan pelanggaran HAM berat di balik kerusuhan rasialis, anti Tionghoa pada Mei 1998.
Oktober 1998, Ita F Nadia (aktivis perempuan) yang sudah berjibaku terjun menolong para korban pelanggaran HAM menghubungi beberapa wihara. Ia bertanya, apa bisa wihara di Jakarta buka posko kemanusiaan, terutama untuk menampung korban perkosaan Mei.
Selain itu, aktivis kemanusiaan juga gelar berbagai acara, dimana saya ikut kepanitiaan, seperti Doa Massal (lintas agama) di Lapangan Banteng, Jakpus Ita banyak membantu para korban perkosaan di beberapa spot termasuk di perempatan Pasar Cengkareng Jakbar.
Respons umat Wihara sangat antusias, banyak yang mengajukan pertanyaan yang sebagian mencerminkan rasa khawatir, ketakutan, cekam pasca kerusuhan Mei 1998. Bagi masyarakat, terutama yang menjadi subjek pelanggaran HAM, tidak ada kata tenang ketika memulai aktivitas di pagi hari, tidak ada kata tenang ketika menutup aktivitas di malam hari.
Waktu berjalan hanya untuk mencengkeram dan memberikan kekhawatiran yang semakin mendalam bagi para korban.
Sayangnya, kekhawatiran yang mencekam ini betul terjadi. Pada tanggal 9 Oktober gempar lagi adanya korban, Ita Martadinata di daerah Cempaka Putih.
Rombongan wihara, terdiri dari penulis, seorang Bhiksu dan dua orang umat datang ke rumah korban. Karena korban, yakni Wiwin Haryono juga umat Wihara Ekayana.
Kebaktian digelar untuk menenangkan Wiwin. Waktu itu, karena suasana masih mencekam. Bahkan, tragedi ‘pembungkaman’ sudah dilakukan, bulu kuduk tetap bergidik merasakan pengawasan di lingkungan tempat tinggalnya.
Nostalgia yang sama sekali tak membahagiakan itu mentransisikan diri ke sosok yang sama. Sosok perempuan yang harus merelakan putrinya tewas di tangan pelaku berdarah dingin, hanya karena “Ita ingin didengarkan.”
Wiwin, yang saat ini sudah melepaskan kehidupan duniawi dengan menjadi seorang biksuni, mengaku tak ada lagi kata-kata yang bisa dia ungkapkan menyambung reaksi pemerintah yang menyangkal tragedi Perkosaan Mei 1998.
Dalam Sidang Gugatan Penyangkalan Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait dengan Perkosaan Mei 1998 di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, ia mengaku semua perasaannya hanya bisa ia sampaikan kepada Tuhan YME.
“Saya hanya menyerahkan, saya berlindung di balik jubah (bhiksuni/rohaniawati agama Buddha). Tapi, saya bukan betul-betul menjadi rohaniawati. saya hanya berlindung, mengadu kepada Tuhan saya, kepada Buddha (menangis),” kata Wiwin.
Sakit yang hanya bisa didiamkan itu ibarat partikel-partikel yang memenuhi ruangan penuh manusia, dia tidak bisa hadir secara nyata, namun perihnya membuat indra perasa terasa merinding.
Merinding karena, jika berada di posisi yang sama seperti Wiwin, apakah hidup akan bisa dilanjutkan? Apakah hidup akan memiliki makna, karena di posisi Wiwin saat ini, di depan publik ia hanyalah memperlihatkan posisi tegar.
“Setelah kejadian Mei 98, jangan sampai ada lagi mereka membunuh, memperkosa. Bukan hanya almarhum anak saya Ita Martadinata, tapi anak-anak yang lain di seluruh Indonesia seperti Wawan (Bernadinus Realino Norma Irawan, 15 Mei 1978 – 13 November 1998, korban tragedy Semangi), dan lain sebagainya,” kata Wiwin.
Sebuah harapan, getir, perih, namun tetap berusaha melanjutkan hidup untuk memberi pesan positif. Memberi pesan nyata kepada pelaku yang masih menjadi bayangan tanpa wujud sampai saat ini.
Wiwin, tetap berpegang teguh memberi pesan kebaikan kepada sesamanya, meski dengan harga fase kehidupan yang mungkin ingin ia hapuskan dari dirinya. *** (Liu)
Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.
-
Dakwaan4 minggu agoDana Ratusan Miliar TaniHub Diduga Disalahgunakan
-
Rekonstruksi3 minggu agoKesaksian Ibu Korban Perkosaan Mei 98 Sempat Jeda karena Traumatis
-
Saksi4 minggu agoKPK Periksa Eks Direktur PT Post Energy (Sadikun Grup) dalam Kasus PGN-IAE
-
Dakwaan2 minggu agoJPU Kejar Sosok Misterius di Balik Operasional Buzzer, OOJ Marcella berlanjut


You must be logged in to post a comment Login