Connect with us

Nasional

Efektivitas SKB Truk Sumbu Tiga Tekan Fatalitas Kecelakaan Nataru 2025-2026

Published

on

Pembatasan operasional kendaraan berat dinilai membantu menurunkan angka kecelakaan dan memperlancar arus libur akhir tahun.

Bogor, Pantausidang — Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Inspektur Jenderal Polisi Agus Suryonugroho, menilai kebijakan pembatasan operasional angkutan barang dengan sumbu tiga atau lebih selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 efektif menekan angka kecelakaan lalu lintas, khususnya fatalitas korban meninggal dunia.

Kebijakan itu diatur melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) sejumlah kementerian dan lembaga yang mewajibkan pembatasan operasional kendaraan berat di ruas tol. Agus mengatakan pembatasan tersebut berkontribusi besar terhadap kelancaran serta keselamatan lalu lintas sepanjang masa Operasi Lilin 2025.

“Kalau dilihat dari aspek Kamseltibcarlantas, kebijakan pembatasan truk sumbu tiga ini sangat membantu. Dengan tidak beroperasinya kendaraan berat di jalan tol, peristiwa kecelakaan juga ikut menurun,” ujar Agus saat ditemui di Pos Pelayanan Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 Polres Bogor, Sentul, Minggu (4/12/2025).

Turunnya Angka Kecelakaan dan Fatalitas

Berdasarkan evaluasi Korlantas Polri, jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas selama Operasi Lilin 2025 tercatat menurun sebesar sekitar 7,20 persen dibanding periode Nataru sebelumnya. Untuk periode Nataru 2025, tercatat 3.183 kejadian kecelakaan, lebih rendah dibanding 3.430 kejadian pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, angka fatalitas korban meninggal dunia juga turun signifikan sekitar 27,12 persen, dari 553 pada musim Nataru sebelumnya menjadi 403 korban jiwa tahun ini.

Menurut Agus, selain memengaruhi keselamatan, pembatasan truk sumbu tiga turut memperlancar arus kendaraan saat mobilitas masyarakat meningkat selama liburan panjang.

“Dengan adanya pelarangan truk sumbu tiga, arus lalu lintas menjadi lebih lancar dan risiko kecelakaan bisa ditekan,” jelasnya.

Penyesuaian Aturan Mengikuti Perubahan Pola Pergerakan

Agus menambahkan, pada pelaksanaan tahun ini terjadi penyesuaian peraturan karena adanya kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang membuat mobilitas masyarakat menjadi lebih tersebar sepanjang masa libur.

“Adanya WFA membuat pergerakan masyarakat lebih tersebar. Karena itu, pengaturan waktu operasional truk disesuaikan, dengan larangan masuk tol dan pengaturan jam operasional di jalur arteri,” urainya.

Kakorlantas menegaskan Operasi Lilin Nataru merupakan upaya keselamatan dan kemanusiaan yang menempatkan keselamatan pengguna jalan sebagai prioritas utama.

“Keselamatan dan kelancaran lalu lintas menjadi yang paling utama, sejalan dengan upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” ucap Agus.

Tren Kecelakaan Nataru Beberapa Tahun Terakhir

Hasil penelusuran catatan data kecelakaan Nataru di Indonesia pada beberapa tahun terakhir menunjukkan tren penurunan jumlah kejadian kecelakaan pada mayoritas periode:

Nataru 2025/2026: 3.183 kejadian, turun sekitar 7,20% dari 2024/2025; fatalitas turun sekitar 27%.

Nataru 2024/2025: Sekitar 3.430–3.434 kecelakaan, turun dari periode sebelumnya (data Kemenhub/Polri).

Nataru 2023/2024: Sekitar 3.412 kecelakaan, turun dibanding data 2022/2023.

Tren nasional menunjukkan bahwa upaya rekayasa lalu lintas tiap tahunnya terus memperkuat keselamatan pengguna jalan, terutama pada puncak mobilitas libur akhir tahun.

Data juga menunjukkan tantangan keselamatan bagi pengguna sepeda motor, yang menurut Kementerian kesehatan masih mendominasi angka fatalitas pada periode Nataru, terutama di jalur arteri dan lokal. *** (Red)

Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Advertisement

Facebook

Tag

Nataru 2025-2026

Trending