Nasional
Kekuatan Cerita, Mindful Reading, dan Seni sebagai Ruang Aman Bagi Anak Tumbuh

Maila lantas memperkenalkan dan mempraktikkan metode mindful reading untuk membantu anak meredam emosi negatif hingga menguatkan kesadaran diri. Dia menjelaskan, mindful reading adalah cara di mana seseorang termasuk anak membaca dengan kesadaran diri bahwa sedang berada di situ dan penuh makna. Dalam metode mindful reading, perlu diperhatikan adalah teknik pernapasan, cerita yang dipilih, dan refleksi. Teknik pernapasan ini mencakup 4-1-4 yakni tarik napas empat detik, tahan satu detik, dan hembuskan empat detik. Teknik pernapasan ini dilakukan di awal dan akhir cerita.
Dia menekankan, tujuan teknik pernapasan 4-1-4 adalah untuk menenangkan sistem saraf sebelum membaca. Maila mencontohkan bahu rileks dan fokus pada suara napas agar otak siap mencerna alur cerita sekaligus merefleksikan nilai-nilai di dalamnya. Di masa-masa bercerita, perlu juga jeda agar anak terkoneksi dengan dan dalam cerita tersebut sehingga anak bisa masuk dan menjadi karakter dalam cerita tersebut, mengenali karakter dalam cerita, dan belajar memecahkan masalah.
“Ini bisa dipraktikkan segi pedagogi pedidikan anak usia dini, dengan praktik sederhana yang bisa diterapkan oleh guru atau orang tua di sekolah maupun di rumah,” ungkap Maila.
Menurut Maila, contoh sederhana praktik pedagogi tersebut dapat dibuat pojok bacaan bagi anak baik di rumah maupun sekolah. Di pojok bacaan, perlu dilengkapi dengan karpet dan bantal, agar anak bisa lebih rileks dan santai saat mendengar cerita jika dibacakan maupun saat anak secara mandiri membaca cerita. Contoh lainnya, membiasakan anak membaca pelan-pelan dan membaca dengan medium simbol-simbol termasuk dengan medium gambar.
“Dengan demikian, anak tidak hanya membaca huruf demi huruf tetapi juga membaca makna demi makna. Contoh lain yaitu sebelum memulai pelajaran di kelas, kita mulai dengan bernafas kemudian membaca cerita dan merefleksikan cerita,” tuturnya.
Maila melanjutkan, memang ada beberapa tantangan utama dalam mengintegrasikan seni, cerita, dan mindful reading ke dalam pembelajaran PAUD. Misalnya, untuk sekolah yang memiliki anak didik cukup banyak memiliki tantangan yaitu anak akan asik sendiri ketika cerita dibacakan oleh guru atau oleh anak didik lainnya. Oleh karena itu, untuk mindful reading cerita di sekolah maka sebaiknya dengan anak sejumlah 10 orang. Tantangan lainnya, ada kalanya sekolah tidak memiliki ruangan untuk pojok bacaan.
“Oleh karena itu, guru dan juga sekolah bisa mengelolanya misalnya bisa membagi sesi berceritanya atau sekolah menyediakan fasilitasi yang paling tidak mencukupi untuk semua anak-anak,” beber Maila.
Maila yang juga Lead Researcher Dharmaila Center menambahkan, dia akan terus mengembangkan program mindful reading melalui Dharmaila Center. Bahkan, tim riset Dharmaila Center sedang menyusun modul terstruktur dan menyiapkan pelatihan bagi guru PAUD serta pendidikan dasar.
“Modul dan pelatihan ini kami siapkan agar pendekatan napas teratur dan bacaan berkesadaran dapat diadopsi secara luas,” tandas Maila.
Keniscayaan Ruang Aman Anak
Kids Biennale Indonesia 2025 merupakan festival seni dua tahunan berskala nasional dan internasional yang mengundang partisipasi anak-anak, termasuk peserta berkebutuhan khusus hingga usia 22 tahun. Festival ini menampilkan 142 karya terkurasi seperti lukisan, instalasi, fotografi, film pendek, dan wayang cilik yang lebih dari 1.026 kiriman karya anak usia 6–17 tahun. Selain pameran, terdapat lokakarya kreatif, pemutaran film, paint by number, pertunjukan wayang, dan dialog lintas generasi yang dirancang inklusif berdasarkan filosofi Ki Hajar Dewantara: Cipta, Rasa, Karsa.

Suasana saat pengunjung melihat karya anak-anak se-Indonesia dalam festival Kids Biennale Indonesia 2025, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Minggu (13/7/2025). Foto: Sabir Laluhu.
Pendiri merangkap Direktur Kids Biennale Indonesia Gie Sanjaya mengungkapkan, festival Kids Biennale Indonesia 2025 bertujuan memberikan ruang aman bagi ekspresi batin anak, memperkuat empati, dan membangun ketahanan psikologis melalui bahasa seni. Gie menjelaskan, pihaknya mengusung tema “Tumbuh Tanpa Takut” karena tema ini menggarisbawahi tiga isu yaitu kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Tema ini juga dimaksudkan untuk memantik anak agar bisa melawan rasa takut mereka dan tumbuh dengan kepercayaan diri.
“Respons atau partisipasi publik dalam hal ini anak-anak sangat luar biasa terhadap kegiatan Kids Biennale Indonesia 2025. Ini terlihat dari anak-anak yang submit ada total 1.026 karya. Dan, anak-anak Indonesia cukup lugas untuk mempresentasikan karya-karyanya lewat seni lintas disipliner,” kata Gie.
Dia menambahkan, pihaknya akan menindaklanjuti hasil kegiatan Kids Biennale Indonesia 2025 dan respons para pengunjung dengan program lanjutan berupa program go international pada dua tahun mendatang untuk l memperluas jaringan dan dampak pada pendidikan multikultural. Gie berharap suara anak-anak dan remaja Indonesia bisa menjadi energi positif bagi Kids Biennale Indonesia bergerak menghadirkan dampak positif bagi anak-anak dan remaja Indonesia hingga ke kancah internasional.
“Mudah-mudahan melalui suara anak-anak dan remaja, kita bisa bergerak bersama dan menyuarakan hati anak dunia,” ucap Gie.
Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.
-
Tersangka2 minggu ago
Usai Kena OTT, Dirut Inhutani V dan Bos Anak Usaha Sungai Budi Group Resmi Tersangka
-
Gugatan3 minggu ago
Eks Karyawan MNC Grup Gugat Hary Tanoe, Kuasa Hukum Gak Muncul
-
Saksi2 minggu ago
Dugaan Korupsi Minyak Mentah Pertamina, Kejagung Periksa President Director PT Medco E&P Indonesia
-
Tersangka2 minggu ago
Kakak Hary Tanoesoedibjo dan Dua Perusahaan DNR Tersangka Korupsi Distribusi Bansos Beras Covid-19
You must be logged in to post a comment Login