Connect with us

Ragam

Merenda Asa dan Manfaat di Balik Aset Rampasan Hasil Korupsi di Yogyakarta

Avatar photo

Published

on

Gedung Griya Batik Yogyakarta tampak depan. Foto: Sabir Laluhu.

Larik Jemari, Meniti Harapan

Dwining Jayanti (65) tersenyum ramah. Jemarinya cekatan menorehkan canting teraliri malam di atas kain putih. Kain ini sudah berpola batik modern yang cantik nan cerah. Dwi, demikian ia disapa, menuturkan kisah.

“Saya sudah empat puluh tahun mendalami batik,” ujar Dwi dengan ramah saat berbincang dengan Pantausidang, di halaman belakang Griya Batik.

Dwi tak lain adalah pengrajin batik Komunitas Sekar Jagat. Dia juga merupakan mantan pengajar Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) yang kini bersalin nama menjadi SMK Negeri 3 Kasihan, Yogyakarta.

“Sudah sekitar dua tahun saya di Griya Batik, sejak awal Griya Batik ini beroperasi. Tapi, memang ndak tiap hari datang. Saya datang kalau ada kegiatan Komunitas Sekar Jagat atau komunitas lain atau kegiatan yang diadakan dinas,” tuturnya.

Dwining Jayanti sedang menjelaskan proses membatik di halaman belakang Griya Batik Yogyakarta. Foto: Sabir Laluhu.

Dwi sempat kaget saat mengetahui bahwa Griya Batik maupun Omah Wayang merupakan aset hasil rampasan perkara korupsi dan TPPU yang dirampas negara melalui KPK dari terpidana mantan Kakorlantas Polri Djoko Susilo. Di sisi lain, Dwi bersyukur aset ini bisa kembali ke masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Wah, bagus kalau bermanfaat aset hasil rampasan dari koruptor dipakai kembali untuk masyarakat. Kan kita pengrajin batik dan dinas bisa pakai Griya Batik ini untuk menjaga dan melestarikan tradisi batik untuk masyarakat luas,” katanya.

Netra Dwi sedikit berkaca-kaca kala disinggung ihwal apa yang perlu dikembangkan untuk pemanfaatan Griya Batik. Dia mengembuskan nafas. Perlahan Dwi mengutarakan harapannya kepada pemerintah wabilkhusus Pemerintah Provinsi DIY melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Harapan ini bermuara dari pengalaman dan profesi yang pernah Dwi geluti sebagai pendidik seni membatik.

“Saya berharap, semoga ke depan di Griya Batik ini ada corner art untuk pengunjung bisa ikur belajar membatik atau workshop art bagi komunitas-komunitas batik. Apalagi, saya pernah lama mengajar batik di SMRS Jogja,” ucapnya. *** (Sabir Laluhu)

Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.

Laman: 1 2 3

Jurnalis Senior | Penulis Buku "Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi" | Penulis Trilogi Buku "Membendung Korupsi Demi Negeri" | Editor & Co-writer Buku "Potret Business Judgment Rule: Praktik Pertanggungjawaban Pengelolaan BUMN" | Direktur Eksekutif Aisykar Nusa Literasi (AKSARA) | Pegiat Sekolah Mazhab Ciputat

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Advertisement

Facebook

Tag

Cuaca Hari Ini

Trending