Connect with us

Niaga

Paguyuban Mie Ayam Wonogiri dengan Bekal Ilmu Marketing Daftarkan Paten ke UNESCO

Published

on

Varian mie ayam hijau yang warna hijaunya dari sari perasan daun pokcoy plus topping sayur brokoli merupakan varian mie sehat pertama, dari Pondok Mas Agung, Petukangan Utara Jaksel

Jakarta, pantausidang — Paguyuban Mie Ayam dan Bakso mengakui berbagai manfaat dengan aktif sebagai mitra produsen dan perusahaan penggilingan tepung terigu yang notabene bahan utama untuk pembuatan mie.

Kegiatan para pengurus dan anggotanya, tidak sebatas silaturahmi tetapi juga berhubungan langsung dengan usaha berjualan mie ayam.

“Ada pelatihan dari perusahaan Bogasari termasuk ilmu _marketing_ yang sangat bermanfaat. Bahkan kami sudah mendaftarkan merek dan paten mie ayam bakso khas Wonogiri ke UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa),” kata Agung, pengurus Paguyuban Tunggal Rasa Mie Ayam Bakso di Petukangan Utara, Ciledug Jakarta Selatan (Jaksel).

Paguyubannya memiliki 200 pelanggan mie ayam, dan sangat dikenal dengan Pondok Mas Agung dan label Wonogiri (salah satu kabupaten di Jawa Tengah).

Mie Ayam dan Bakso Khas Wonogiri sejak tahun 1990, ia bekerja keras berjualan mie ayam, sambil berkontribusi kepada pedagang mie lainnya terutama seputar daerah Ciledug (perbatasan Jaksel dan Tangerang).

“Saya juga jual mie basah ke pedagang lain. Mereka olah lagi dan punya pelanggan juga. Tapi sebagian besar, saya olah untuk stok mie kami di outlet sini (Petukangan Utara),” kata Agung yang mulai aktif di Paguyuban sejak tahun 2017.

Paguyuban tidak hanya di Jakarta, melainkan di berbagai daerah termasuk Wonogiri. Dari hasil kerja keras usaha mie ayam bakso, ia yakin khas Wonogiri tidak lepas dari menu sehari-hari warga di Wonogiri.

Bahkan mie ayam ibaratnya menu utama selain nasi di Wonogiri. Begitu pula di Jakarta, beberapa pedagang mie ayam, baik yang menggunakan gerobak atau warung permanen juga semakin meningkatkan kualitas rasa dan ketersediaan pilihan sehat bagi para konsumen serta penggemar mie ayam Wonogiri.

“Bakso wonogiri mendunia, setelah kami mendaftarkan paten ke UNESCO bulan Juli yang lalu. Ada peran dan fasilitasi dari Bupati Wonogiri juga,” kata laki-laki kelahiran tahun 1969.

Agung dari Paguyuban Tunggal Rasa Mie Ayam Bakso di Petukangan Utara, Ciledug (tengah), Deni Puspahadi dari perusahaan penggilingan tepung terigu terintegrasi Bogasari (ke 2 dari kanan), Bagus (kiri)

Sementara itu, Deni Puspahadi dari Bogasari melihat urgensi membangun ekosistem makanan sehat pada tataran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Karena selama ini, ekosistem makanan sehat sering dianggap hanya tersedia pada tempat premium . Bahkan masyarakat pada tataran kelas menengah atas berani mengeluarkan biaya sekitar Rp 150.000 per catering (makan siang/malam).

“Selama ini pilihan makanan sehat hanya tersedia di gerai-gerai mahal. Bahkan semakin banyak kelas menengah atas memilih catering dengan tingkat kesehatan tinggi. Harganya juga tinggi, sekitar Rp 150.000. kami sebagai produsen juga mau ada ekosistem makanana sehat pada level UMKM.”

“Contohnya, mie ayam yang dijual Pondok Mas Agung ini, sudah mulai membangun ekosistem makanan sehat dan murah. Kami juga terus sosialisasi sehingga konsumen mie ayam semakin berorientasi pada perilaku konsumsi makanan sehat. Ekosistemnya tidak hanya di tempat premium lagi tapi sudah mulai tumbuh pada UMKM,” kata Deni.

Inisiatif dan ide Agung dan beberapa karyawannya mendapat apresiasi dari PT Bogasari yang memproduksi tepung terigu merek Cakra Kembar yang telah digunakan sebagai bahan baku mie ayam. Secara turun temurun dari sejak ia memulai usaha warung mie ayam sejak tahun 1990, dan kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Bagus hingga sekarang. Varian mie ayam hijau (warna hijau mie diperoleh dari sari perasan daun pokcoy) yang dibuatnya, dengan topping sayur brokoli sebagai varian mie sehat pertama.

“Anak Mas Agung, Bagus sebelumnya sudah melakukan riset sederhana terkait kesukaan konsumen, kemudahan memperoleh bahan baku dan daya beli masyarakat dengan harga terjangkau. Brokoli yang mengandung gizi cukup tinggi, disukai banyak orang. Harganya juga kompetitif, sehingga saya bisa berkontribusi kepada masyarakat mengenai pangan bergizi. Harganya hanya sekitar Rp 20 ribu, tapi ada nilai kandungan gizi,” kata Deni. *** (Liu)

Kritik saran kami terima untuk pengembangan konten kami. Jangan lupa subscribe dan like di Channel YouTube, Instagram dan Tik Tok. Terima kasih.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Advertisement

Facebook

Tag

Cuaca Hari Ini

Trending